MAN 2 Mataram: Antara Ruang Kelas dan Ruang Maya

  • Selasa, 31 Agustus 2021 - 05:38:42 WIB
  • Administrator
MAN 2 Mataram: Antara Ruang Kelas dan Ruang Maya

MAN 2 Mataram: Antara Ruang Kelas dan Ruang Maya  

(Oleh Afifah Kamilatul Unsha (MAN 2 Mataram))

           Satu setengah tahun berlalu, pandemi covid-19 telah mengubah pandangan manusia tentang banyak hal, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Seorang guru yang tidak mau disebutkan namanya berkisah bahwa sebelum pandemi covid-19, dirinya merupakan guru yang sangat konvensional. Baginya, mengajar adalah sebuah perjumpaan tatap muka di ruang kelas. Beliau menggerakkan peserta didik untuk belajar hanya menggunakan media-media sederhana: buku, LKS, papan tulis, benda-benda atau peristiwa nyata di lingkungan sekolah. Bahkan beliau berkisah, sering masuk ruang kelas dengan tangan hampa dan mengajar tanpa alat bantu.

         “Saya percaya kualitas suara, ekspresi wajah, gerak tubuh, serta kekuatan pikiran dapat memproyeksikan konsep atau materi yang sedang saya ajarkan”, tuturnya dengan penuh percaya diri. Namun, ketika covid-19 mewabah di awal tahun 2020, kepercayaan diri itu sirnah, seiring hilangnya tegur sapan dan gemuruh tawa peserta didik dari ruang kelas. Saat itu, ruang-ruang kelas dengan berbagai hiasan pun, sepi tanpa penghuni. Gedung sekolah yang megah dengan halaman dan taman yang tertata indah tidak lagi memukau. Murid-murid yang ia rindukan entah berada di mana.

         Sang guru dihadapkan kenyataan baru bahwa kualitas suara, ekspresi wajah, gerak tubuh yang menjadi andalannya selama ini seakan tidak bermanfaat. Dia membutuhkan kekuatan lain untuk dapat menjangkau dan membelajarkan murid-muridnya. Kekuatan itu adalah kecakapan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Ia mulai menata diri. Ia belajar merambah informasi di internet, menjelajah video pembelajaran di You Tube, hingga mengotak-atik berbagai akun dan aplikasi pembelajaran.

         Alhasil, secercah harapan dan keyakinan baru berbinar di hati Sang guru. Sebuah pembelajaran era baru dimulai. Pertemuan-pertemuan virtual pun dirancang dan digelar. Ruang kelas dengan tembok-tembok kokoh yang penuh sesak meja dan kursi beralih ke ruang maya yang tanpa sekat. Semua perasaannya yang bercampur-aduk. Ada perasaan senang dan takjub yang bercampur baur dengan kikuk dan was-was. “Maklum, saya baru memulai. Ini sejarah baru dalam hidup dan profesi saya”, ujarnya dengan penuh kerendahan hati.

         Seiring penyebaran virus corona yang kian menggila, pembelajaran secara virtual akhirnya menjadi pemandangan keseharian yang lazim. Semua pembelajaran jarak jauh (PJJ) dikendalikan melalui jaringan internet. Beberapa orang siswa MAN 2 Mataram menyebutnya sebagai, “Hari-hari penuh daring. Semua serba online. Seumpama hidangan tanpa pilihan rasa.” Hasil survey terbatas yang penulis lakukan memperlihatkan bahwa mereka mulai merasa bosan dan jenuh dengan pembelajaran yang serba daring. Menurut mereka, pembelajaran semakin terasa monoton dengan tugas-tugas yang menumpuk.

         Dominasi praktik pembelajaran daring semacam ini mencemaskan banyak pihak. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB mencatat ada 148 siswa SMA yang memutuskan menikah karena merasa jenuh belajar secara daring. Sementara riset ISEAS-Yusof Ishak Institute yang dikutip BBC Indonesia pada tanggal 21 Agustus 2020, menjelaskan bahwa pembelajaran secara daring telah menciptakan ketimpangan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hampir 69 juta siswa kehilangan akses pendidikan dan pembelajaran selama masa pandemi karena tidak memiliki akses internet. Di sisi lain, banyak kelompok siswa dari keluarga mapan lebih mudah mengakses pembelajaran jarak jauh.

          Menyiasati kejenuhan siswa dan dampak buruk pembelajaran yang serba daring, MAN 2 Mataram berinisiatif menerapkan model pembelajaran hybrid learning. Hybrid learning adalah perpaduan atau kombinasi pembelajaran daring dan tatap muka. Biasanya memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer, gawai, dan perangkat elektronika lainnya.

          Penerapan hybrid learning di MAN 2 Mataram dilakukan melalui pertemuan tatap muka (PTM) terbatas dan pembelajaran dengan platform e-learning. Pertemuan tatap muka (PTM) terbatas diselenggarakan untuk menjelaskan materi pelajaran atau konsep-konsep keilmuan. Kemudian ativitas pembelajaran dilanjutkan melalui platform e-learning. Pada e-learning inilah, peserta didik melakukan diskusi dan menyelesaikan tugas-tugas belajarnya.

          Strategi pembelajaran berbasis hybrid learning diyakini dapat menjadi solusi terbaik untuk pembelajaran di masa pandemi covid-19. Pembelajaran daring melalui e-learning digunakan untuk menekan terjadinya penularan covid-19, juga sebagai sarana pembiasaan peserta didik untuk mengakrabi teknologi muktahir. Ini sangat penting sebagai bekal peserta didik untuk memasuki kehidupan di masa depan. Di sisi lain, pembelajaran tatap muka sangat penting untuk memenuhi butuhan mental dan sosial peserta didik. Tidak dapat dipungkiri manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan individu lain.

          Ihtiar MAN 2 Mataram memadukan kelebihan pembelajaran daring dan tatap muka ini disambut baik oleh peserta didik. Survey yang penulis gelar pada pertengahan Agustus memperlihatkan bahwa 93,5% siswa MAN 2 Mataram merasakan manfaat nyata hybrid learning. Menurut mereka pembelajaran hybrid learning dapat mengatasi kesulitan dalam memahami materi pelajaran. “Saat pembelajaran daring, saya kesulitan memahami sebuah konsep. Saya memiliki gaya belajar auditori dan kinestik. Karena itu, saya membutuhkan penjelasan langsung dari guru agar mudah memahami pelajaran” ungkap salah seorang responden. Penerapan hybrid learning dapat menjadi solusi untuk mengatasi perbedaan tingkat serta cara pemahaman siswa terhadap suatu materi pembelajaran.

          Perpaduan pembelajaran daring dan tatap muka, juga membantu siswa mendapatkan banyak waktu luang untuk menggali potensi diri. “Di sela-sela kesibukan menyelesaiakan tugas belajar di e-learning, saya masih bisa mengikuti lomba dan festival. Saya mendapatkan banyak kesempatan mengikuti webinar. Saya juga menikmati kesempatan berharga saat bertemu tokoh-tokoh publik inspirasitif walaupun melalui zoom,” demikian pengakuan beberapa responden.

          Strategi hybrid learning memudahkan siswa dalam mengakses materi yang ada di e-learning selama 24 jam. Keluasaan waktu belajar yang demikian, tampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh peserta didik untuk mengeksplore hal-hal baru. Namun demikian, sebagian siswa menilai penerapan hybrid learning di MAN 2 Mataram belum berjalan secara efektif. Mereka mengeluhkan jadwal tatap muka yang terbatas. Akibatnya mereka tidak mendapatkan penjelasan materi yang memadai. Sebagian siswa mengeluhkan banyak jam pelajaran kosong, serta belum maksimalnya peran sebagian guru membimbing belajar peserta didik.

           Hasil survey juga memperlihatkan semua responden sepakat bahwa peran guru sangat penting bagi keberhasilan semua praktik pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pandangan Deve Meier dalam buku The Accelerated Learning. Menurut Meier perhatian guru yang tulus memberi pengaruh yang maksimum kepada pembelajar. Hati, jiwa, dan gairah seorang gurulah yang lebih banyak ditangkap oleh pembelajar daripada metode, teknik, dan media yang digunakan.

Mataram, 27 Agustus 2021

  • Selasa, 31 Agustus 2021 - 05:38:42 WIB
  • Administrator

Berita Terkait Lainnya